Di pangkal keputusan

Aku memindai potongan senja yang melayang di atas cakrawala
beberapa nama meluncur ke arahku
tapi payung ego memperisai

pada kanvas khayalku
aku melukis rupanya begitu indah
mendefinisikan perilakunya begitu mulia
menakar kecerdasannya begitu elegan…

tanpa sadar bahwa aku sepotong kerikil
yang merindukan bulan bulat penuh

Seharusnya bukan lah imajinasi
Tapi entitas real yang taat
yang kan menemaniku menyisir tinta yang telah kering

Kau tak kan mempersulit yang baik untukku
dan mempermudah yang buruk untukku :)

One Response to “Di pangkal keputusan”

  1. Syiro Says:

    Tapi,

    Saat terbangun mengadapi realita dari mimpi yang begitu mempesona bukankah sedah saatnya merancang apa dan bagaimana karena usia kan selalu bertambah

    Jangan biarkan banyak tapi hinggap dihati, menafikkan begitu banyak yang bisa dilakukan.

    KEtika begitu banyak tapi menghalangi hati katakan sejujurnya akankah terbiar masa yang akan terus melaju ataukah kau kan terus menunggu.. selalu hingga keputus asaanlah yang kan menyapa dan kau kan berkata.. kenapa ngga?

Leave a Reply